Mengenang Begawan Bangsa

Kategori Ragam 0 opini

Kiai Haji Abdurrahman Wahid lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 4 Agustus 1940. Mengenyam pendidikan mulai SD di Jakarta pada tahun 1953 kemudian melanjutkan ke SMEP di Yogyakarta tahun 1956. Beliau yang lebih akrab dipanggil dengan Gus Dur melanjutkan pendidikan di pesantren Tambakberas Jombang pada tahun 1963. Gus Dur juga sempat mengenyam pendidikan di Universitas Al Azhar, Department of Higher Islamic and Arabic Studies, Kairo Mesir yang diselesaikan pada tahun 1966 kemudian melanjutkan ke Fakultas Sastra, Universitas Baghdad, Irak, hingga tahun 1970.

Kembali ke Indonesia, Gus Dur berkarier menjadi guru dan dosen. Menjadi Guru Madrasah Mu’allimat, Jombang (1959 – 1963), Dosen Universitas Hasyim Asyhari, Jombang (1972-1974), dan Dekan Fakultas Ushuluddin Universitas Hasyim Asyhari, Jombang (1972-1974).

Keaktifan Gus Dur di pesantren salah satunya adalah menjadi sekretaris Pesantren Tebuireng, Jombang (1974-1979) dan menjadi konsultan di berbagai lembaga dan departemen pemerintahan pada tahun 1976. Selanjutnya, sejak tahun 1976 hingga wafatnya, Gus Dur menjadi pengasuh Pondok Pesantren Ciganjur, Jakarta.

Kiprahnya di Lembaga Islam terbesar di Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama adalah Gus Dur menjadi anggota Syuriah Nahdlatul Ulama tahun 1979-1984. Menjabat Ketua Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) selama tiga periode. Masing-masing 1984-1989, 1989-1994, dan 1994-1999.

Kiprah di ranah pemerintahan, Gus Dur menjelajah dan pernah menjabat pada lembaga legislatif maupun eksekutif. Menjadi anggota MPR dari utusan golongan pada periode 1987-1992 dan 1999-2004. Karier politik tertingginya adalah menjadi Presiden RI selama 2 tahun pada 1999-2001. Dengan waktu yang singkat namun memberikan pondasi kuat demi sistem dan pembelajaran politik yang sangat indah. Juga cucu dari pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asyari, inipun tidak ketinggalan membentuk sebuah organisasi kepartaian yaitu Partai Kebangkitan Bangsa pada era Reformasi.

Sisi-sisi buah pikiran kontroversialnya selain sebagai tokoh kerukunan antar umat beragama salah satunya adalah menjadi anggota Dewan Pendiri Shimon Peres Peace Center, Tel Aviv, Israel. Gus Dur juga menjadi Wakil Ketua Kelompok Tiga Agama, yaitu Islam, Kristen, dan Yahudi, yang dibentuk di Universitas Al Kala, Spanyol, serta Pendiri Forum 2000 (organisisasi Interfaith). Menjabat sebagai Ketua Dewan Internasional Konferensi Dunia bagi Agama dan Perdamaian atau World Conference on Religion and Peace (WCRP), Italia, tahun 1994.

Gus Dur juga pernah menjadi Ketua Dewan Pimpinan Harian (DPH) Dewan Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (TIM) periode 1983-1985. Penurunan kemampuan melihatnya bukan menjadi halangan untuk membaca hingga akhir hayatnya. Bahkan sangat produktif menulis artikel dan buku.

Penghargaan yang pernah diraihnya antara lain gelar (1) Doktor Honoris Causa dari Universitas Jawaharlal Nehru, India. (2) Bintang Tanda Jasa Kelas 1, Bidang Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan dari Pemerintah Mesir. (3) Pin Penghargaan Keluarga Berencana dari Perhimpunan Keluarga Berencana I, Ramon Magsaysay/ (4) Bintang Mahaputera Utama dari Presiden RI BJ Habibie. (5) Gelar Doktor Honoris Causa bidang perdamaian dari Soka University Jepang (2000), (6) Global Tolerance Award dari Friends of the United Nations New York (2003), (7) World Peace Prize Award dari World Peace Prize Awarding Council (WPPAC) Seoul Korea Selatan (2003), (8) Presiden World Headquarters on Non-Violence Peace Movement (2003). (9) penghargaan dari Simon Wiethemtal Center Amerika Serikat (2008), (10) penghargaan dari Mebal Valor Amerika Serikat (2008), (11) penghargaan dan kehormatan dari Temple University, Philadelphia, Amerika Serikat, yang memakai namanya untuk penghargaan terhadap studi dan pengkajian kerukunan antarumat beragama, Abdurrahman Wahid Chair of Islamic Study (2008).

Gus Dur meninggal dunia pada Rabu tanggal 30 Desember tahun 2009 sekitar pukul 18.45 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta setelah sempat dirawat beberapa hari dan menjalani cuci darah. KH Abdurrahman Wahid meninggalkan seorang istri, Shinta Nuriyah, dan empat orang puteri, yaitu Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zanuba Arifah, Anita Hayatunnufus, dan Inayah.

Innalillahi wa inna illaihi rajiun, selamat jalan pendekar demokrasi dan hak asasi manusia serta penjaga dan begawan bangsa, semangatmu senantiasa melekat di jiwa kami semua.

Ditulis oleh admin      25 February 2010 0 opini
Kata Kunci : ,

Random Posts

0 Opini

No comments yet. Be the first to leave a comment !
Leave a Comment

Sebelum
«
Sesudah
»
Delighted Black designed by Christian Myspace In conjunction with Ping Services   |   French Teacher Jobs   |   Maths Teacher Jobs