Bahwa pemerintah sudah dan banyak sekali menggulirkan program-program penanganan kemiskinan, baik pada skala nasional, daerah maupun langsung masuk ke desa. Baik yang berupa bantuan dana (fresh money) maupun yang berupa pelatihan maupun peningkatan kapasitas masyarakat desa.
Namun ternyata dengan banyaknya program anti kemiskinan belum banyak memberikan dampak positif pada penurunan angka kemiskinan. Bahkan seolah dengan keberadaan program-program itu justru kemiskinan semakin bertambah. Sebenarnya ada apa dibalik semua itu, apakah ada kesalahan formula ataukah memang pelaksanaan program tidak optimal sama sekali.
Pengawasan masyarakat agar pelaksanaan program tersebut menjadi optimal adalah menjadi penting. Masyarakat harus mengontrol mulai proses perencanaan hingga pelaksanaan selesai dan dipertanggungjawabkan. Berawal dari temuan lapangan dalam studi yang digelar PATTIRO Magelang maka kemudian disimpulkan bahwa masyarakat (segenap komponen), baik ormas, LSM maupun lembaga-lembaga desa harus terlibat dalam proses monitoring serta evaluasinya, sehingga akan terjadi optimalisasi pelaksanaan program.
Pada 20-21 Nopember 2009 lalu, PATTIRO Magelang mencoba mengajak masyarakat desa yang tergabung dalam desa mitra jaringan PATTIRO Magelang untuk sinau bareng (belajar bersama) mengenai program-program penanganan kemiskinan yang masuk ke tingkat desa. Baik itu dari pusat maupun daerah. Agenda sinau bareng yang mengahadirkan narasumber dan fasilitator Bapak Mashadi (Pemkab Magelang) dan Bp Rohidin Sudarno (PATTIRO Jakarta) bersama Mas Amar Beni (PATTIRO Magelang) ini menghasilkan bahwa harus dilakukan penyamaan pandangan pada level desa antar lembaga-lembaga desa dengan pemerintahan desa bahwa pengawasan itu penting dan dokumen perencanaan menjadi penting dalam monitoring dan evaluasi tersebut.